Jamaah Ahmadiyah di Sultra: Ditolak lalu Diterima

  • Bagikan
Suasa pertemuan sejumlah jurnalis dan pers mahasiswa bersama JIA di Kendari. Ist

ADASWARA.COM, KENDARI – Sore itu di pekan terakhir November 2025, langit Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) nampak cerah. Cuaca yang cukup bersahabat, mengiringi kegiatan pertemuan sejumlah jurnalis dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Pers Mahasiswa IAIN Kendari bersama Jamaah Islam Ahmadiyah (JIA).

Bertempat di rumah misi JAI Kendari yang terletak lingkungan Pasar Baruga, Kota Kendari, pertemuan itu berlangsung hangat. Duduk lesehan di atas karpet membuat perbincangan semakin santai. Sesekali serius tapi lebih banyak diselingi canda tawa, ditemani kopi panas dan kudapan yang disajikan pengurus JAI selaku tuan rumah.

“Sore ini teman-teman jurnalis memang kita ajak ngopi santai, jadi mari kita nikmati kopi yang walau rasanya pahit tapi nikmat,” celetuk Mubaligh Daerah (Mubda) JIA Kendari, Mln Danang Hafizzurahman.

Dalam perbincangan yang berlangsung kurang kebih 2 jam itu, JIA dan jurnalis saling bertukar cerita tentang perjuangan Ahmadiyah yang mulai masuk ke Sultra sejak 1999. Kala itu, aliran kiri disematkan ke JIA karena dituding membawa ajaran sesat hingga kerap dipersekusi dan mendapat tindakan kekerasan di lingkungan masyarakat.

“Itu karena kita belum saling mengenal saja. Padahal faktanya kami juga menjalankan ajaran Islam pada umumnya. Cara salat juga sama dan nabi yang menjadi tuntunan kami ya Nabi Muhammad,” jelas Mln Danang sambil terkekeh.

Awal-awal berdakwah di beberapa daerah di Sultra, JIA benar-benar menghadapi perjuangan yang sulit. Di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) salah satunya, penolakan bukan hanya datang dari masyarakat tapi juga pemerintah daerah (pemda) setempat. Puncaknya, di 2011 Pemda Konsel mengeluarkan surat larangan aktivitas Ahmadiyah, menyusul terjadinya aksi penolakan masyarakat dan dianggap mengganggu ketertiban dan kemanan masyarakat.

“Saya ingat kala itu saya sempat ikut liputan saat Pemda Konsel melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama menggelar pertemuan antara JIA dengan warga yang melakukan penolakan. Namun, tidak ada titik temu hingga akhirnya pemda mengeluarkan surat larangan,” kata Ketua AJI Kendari, Nursadah, di sela-sela perbincangan dengan JIA.

Saat itu pun, isu aliran sesat bagi jemaah Ahmadiyah terus menguat. Beberapa jemaah bahkan diminta menyatakan tobat dan kembali menjadi penganut Islam pada umumnya.

Di tengah penolakan dan marginalisasi, dakwah JIA tetap berjalan meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi.

Seiring berjalannya waktu, melalui metode pendekatan dan cara komunikasi yang lebih baik, JIA mulai mendapat penerimaan di tengah masyarakat. Aktivitas sosial dan keagamaan pun dilakukan secara terbuka, hingga stigma negatif perlahan berubah.

“Sekarang ini rumah misi JAI Kendari saja berada di tengah-tengan pusat keramaian. Kami hidup berdampingan dengan masyarakat pada umumnya. Kami juga selalu terbuka kepada siapa saja yang mau datang dengan niat silaturahmi atau ingin mengenal kami,” ungkap Mln Danang.

Kini, JIA di Sultra telah mencapai ribuan jemaah dan tersebar di 17 kabupaten/kota. Rencananya 6 Desember 2025 mereja akan mengadakan temu akbar.

“Seluruh jemaah dari 17 kabupate/kota akan berkumpul di rumah misi JAI Kendari selaku tuan rumah,” ujar Ketua Pemuda Ahmadiyah Kendari, Muh Yasin, menambahkan.

Pertemuan pun terhenti saat mendekati waktu salat magrib. Jurnalis dan pers mahasiswa pun pamit setelah dijamu kopi, kemudian disusul makan sore di warung terdekat dari rumah misi JAI Kendari. (Ada)

Baca Juga Berita AdaSwara.com di Google News: https://news.google.com/publications/CAAqBwgKMIyQqAwwnpi2BA
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *